NILAI BUDI DAN KEISLAMAN DALAM PANTUN MELAYU PONTIANAK ( KONSEP NILAI BUDI ORANG MELAYU)
Ada dua nilai asas bagi masyarakat Melayu Pontianak, yaitu Islam dan adat. Kedua nilai
tersebut dalam pelaksaan atau perlakuannya mempunyai asas yang tetap dalam
perubahan. Walaupun masing-masing berasal dari sumber yang berbeda, namun dapat saling mengisi, melengkapi dan mengukuhkan satu sama lain, tidak terpisahkan.
Kemudian dari peraturan dan persenyawaan nilai-nilai inti ini lahirlah budaya Melayu
ditempa, dibina dan diorientasikan kepada budi, yang bertujuan menghasilkan manusia
yang budiman. Dengan demikian, budi merupakan konsep “ukuran penilaian” yang
digunakan oleh masyarakat Melayu Pontianak tradisional, sedangkan manusia yang
budiman merupakan”hasil penilaian yang diidamkan dan dicita-citakan.” Konsep ini
sebenarnya merupakan manifestasi nilai-nilai Islam di tanah Melayu.
Dalam usaha mengorientasikan nilai budi dan pencapaian tujuannya, masyarakat
dan budaya Melayu Pontianak telah memainkan peranan yang penting. Melalui proses
sosialisasi dan engkulturisasi lahiriyah manusia Melayu yang tahu menjaga tata tertib
dan budi pekertinya, sehingga dikatakan sebagai manusia yang tahu adat atau beradat .
sifat tersebut terutama lahir dari kehalusan dan keluhuran budi serta kedalaman batin
dan kegiatan rohani yang ditempa okeh tradisi budaya Melayu.
Manusia yang budiman dalam konteks Melayu, sebagaimana dikatakan berikut:
Disebut: ‘orang’ dalam artikata menjadi kata menjadi orang, orang adalah
konsep budaya, satu katagori sosio-budaya, yang memiliki konsep budaya yang tinggi,
beriman, berilmu, memiliki kekayaan dan kedudukan. Kekuatan batiniah dan lahiriyah
itu tergabung dan melengkapi menjadikan ia seorang budiman.
Jadi, dalam konteks ini, seorang budiman tidak lain adalah orang yang
sempurna, karena ia memiliki dua kekuatan sekaligus, yaitu kekuatan lahiriyah dan
batiniyah. Kedua kekuatan tersebut dikesan dalam berbagai-bagai perlakuan sehingga
menjadikannya jati dirinya. Oleh karena itu, manusia yang budiman adalah manusia
yang senantiasa menjadi idaman, contoh-teladan dan jadi sebutan dikalangan
masyarakat. Dengan perkataan lain, manusia yang budiman menempati peringkat
utama dalam sistem susun lapis masyarakat Melayu Pontianak tradisional.
Seiring dengan perubahan zaman, konsep budi masyarakat Melayu juga turut
mengalami banyak perubahan. Budi yang peda awalnya ditempatkan pada peringkat
nilai yang tertinggi dan terhormat, sekarang lagi. Sebaliknya nilai diri dan status social
kini dan diukur dari segi kepentingan material (kedudukan, uang dan harta). Keadaan ini
lebih inti dan terlihat dalam kehidupan di Bandar atau di kota daripada di desa atau di
kampung. Akibatnya, hubungan social yang hanya didasarkan kepada kepentingan
material menjadi renggang, mudah retak atau putus jika kepentingannya sudah tidak
ada. Keadaan ini akan membawa pengaruh kepada timbulnya berbagai-bagai perasaan,
seperti rasa kesepian dan kesunyian di tengah-tengah orang ramai, hilangnya rasa aman
dan sebaliknya. Berbeda halnya dengan hubungan social manifestasi budi, sekalipun
misalnya hanya berupa muka manis, tutur kata yang sopan dan tidak menyakitkan.
Hubungan ini akan bertahan lama dan bahkan akan dikenang sepanjang masa; seperti
pepatah Melayu mengatakan:
Tak usah kami berikan kain,
Dipakai kain dia tak luntur,
Tak usah kami diberi nasi,
Dimakan nasi dia kan habis,
Berilah kami hati yang suci, muka jernih,
Budi baik dibawa mati.
Nama : SUHA SRI HANDAYANI
Prodi : Manajemen Bisnis Syariah
Nim : 202103125
Mata Kuliah : SEJARAH EKONOMI DUNIA MELAYU
Komentar
Posting Komentar